Berbeda dengan lagu-lagu yang telah di-release sebelumnya, “Iris” adalah lagu berbahasa Indonesia pertama oleh SHVRON. Lagu yang diproduseri oleh Pradipta Beawiharta dan Redhy Mahendra dan ditulis oleh Raga Maharasta, Pradipta Beawiharta bersama SHVRON sendiri ini, tetap kental dengan emo/post-hardcore nya dengan campuran elemen pop, elektronik ditambah suara SHVRON yang berat, dengan emosi yang dalam.
"Iris" menceritakan tentang seseorang yang merasa hampir "terbunuh" dengan apa yang pernah dia inginkan sehingga ia meninggalkan sebuah impian atau sebuah asa atau mungkin hubungan itu yang mungkin juga diidam-idamkan banyak orang, dan ternyata tidak seindah kelihatannya. Setelah meraih impiannya itu, ia menyadari bahwa itu bukan di mana seharusnya ia berada, namun ia sudah terlanjur masuk kedalam lingkaran setan. “Ku berdarah namun aku merasa hidup kembali” menggambarkan situasi setelah berjuang mati-matian untuk mengejar “mimpi” itu, ia juga harus mati-matian untuk keluar dari situasi tersebut. Namun dengan semua darah yang hilang, ia akhirnya menemukan harapan baru.
Lagu ini terinspirasi dari
kejadian nyata yang dialami Sharon, dimana dia merasa terkurung dan terjebak
dengan situasi yang dia alami saat itu, tapi dia juga tidak bisa pergi
semaunya. Bahkan Sharon menelpon ibunya, meminta ibunya untuk mendoakan dia
agar sakit karena ia pikir sakit adalah satu-satunya jalan agar dia dibiarkan
untuk meninggalkan tempat itu.
"Iris" sendiri diambil
dari kata Bahasa Indonesia yang bersinonim dengan kata "potong",
"sayat" dan sebagainya. Dan juga bisa diartikan dari nama bunga
"Iris" yang melambangkan harapan dan kebangkitan—sebagai kebangkitan
SHVRON yang kembali berkarya setelah masa kelam yang sempat ia alami beberapa waktu
lalu. SHVRON pun sudah menyiapkan amunusi-amunusi lainnya yang akan rilis
setelah "Iris".